Kamis, 23 Mei 2013

ASPEK SOSIAL BUDAYA YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU KESEHATAN

 


PENGERTIAN MASYARAKAT
  • Mdnurut Koentjaraningrat (1996): masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi sesuai dengan sistem adat istiadat tertentu yang sifatnya berkesinambungan dan terikat oleh rasa identitas bersama
  • Menurut Gillin (1954): masyarakat adalah kelompok manusia yang besar yang mempunyai kebiasaan, sikap, tradisi dan perasaan persatuan yang sama

UNSUR MASYARAKAT
  • Kesatuan sosial: bentuk kesatuan individu yang berinteraksi, meliputi kerumunan, golongan dan kelompok
  • Pranata sosial: himpunan norma2 dari segala tingkatan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok dalam kehidupan bermasyarakat


KEBUDAYAAN
  • Menurut Taylor: kebudayaan sebagai keseluruhan yang kompleks yang didalamnya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan dan kemampuan kesenian, moral, hukum adat istiadat dan kemampuan lain serta kebiasaan2 yang didapat manusia sebagai anggota masyarakat
  • Menurut Koentjaraningrat: kebudayaan adalah seluruh kelakuan dan hasil kelakuan manusia yang teratur oleh tata kelakuan yang harus didapatkanya dengan belajar dan yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat


UNSUR BUDAYA
  1. Sistem religi
  2. Sistem dan organisasi masyarakat
  3. Sistem pengetahuan
  4. Bahasa

  1. Kesenian
  2. Mata pencaharian
  3. Teknologi dan peralatan


MANFAAT NAKES MEMPELAJARI UNSUR BUDAYA
  1. Pasien muslim kurang gizi, jangan disarankan makan daging babi (karena haram)
  2. Bayi diare dianggap sebagai proses peningkatan kepandaian
  3. Bayi yang sakit akibat kesalahan kedua orangtuanya (NTT)
  4. Bahasa lokal: kutilang, untuk wanita kurus tinggi langsing, banyak yang anemia karena diet ketat


WUJUD BUDAYA
  1. Tata kelakuan: nilai, norma, hukum
  2. Komplek aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat
  3. Benda hasil karya manusia


PENGARUH ASPEK SOSIAL BUDAYA
  • Aspek Sosial yang mempengaruhi status kesehatan ada 4:
  1. Umur
  2. Jenis kelamin
  3. Pekerjaan
  4. Sosial ekonomi


Menurut Elling dan Foster, faktor sosial yang mempengaruhi perilaku kesehatan:
  1. Self concept
  2. Image kelompok
  3. Identifikasi individu


Menurut Foster, aspek budaya yang mempengaruhi perilaku kesehatan ada 5:
  1. Tradisi
  2. Sikap fatalisme
  3. Nilai
  4. Ethnocentrism
  5. Unsur budaya yang dipelajari pada tingkat awal dalam proses sosialisasi


PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA
  • Karena perilaku dipengaruhi budaya, maka untuk merubah perilaku juga harus dirubah budayanya
  • Bentuk perubahan sosial budaya:
  1. Perubahan yang terjadi secara lambat dan cepat
  2. Perubahan yang pengaruhnya kecil dan yang pengaruhnya besar
  3. Perubahan yang direncanakan dan yang tidak direncanakan
  • Perubahan kebudayaan yang terjadi dalam jangka waktu pendek disebut inovasi
  • Syarat inovasi:
  1. Masyarakat merasa membutuhkan perubahan
  2. Perubahan harus dipahami dan dikuasi masyarakat
  3. Perubahan dapat diajarkan
  4. Perubahan memberikan keuntungan di masa yang akan datang
  5. Perubahan tidak merusak prestise pribadi dan kelompok

Penyebab perubahan tidak meluas:
  • Pengguna perubahan baru mendapat suatu hukuman
  • Penemuan baru sulit diintegrasikan ke dalam pola kebudayaan yang ada


REFERENSI
  1. Notoatmodjo, 2005, Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi, Jakarta, Rineka Cipta
  2. Fisher, Augrey, 1986, Theories of Communication (Terjemahan Soejono Trimo), Bandung, Remaja Karya

  1. Green, 1980, Health Education Planning, A Diagnostic Approach, The John Hopkins University, Maryland, Mayfield Publishing Company
  2. Koentjaraningrat, 1996, Pengantar Anthropologi
  3. Elling, Socio Cultural Influences On Health and Health Care
  4. Foster, 1973, Traditional Societes in Technological Change
»http://adingpintar.files.wordpress.com/2012/03/aspek-sosiobudaya-dan-kesehatan.pdf

















                                                                            




ASPEK SOSIOBUDAYA BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU KESEHATAN

1. Pengertian Kebudayaan
Secara sederhana kebuadayaan dapat diartikan sebagai hasil dari cipta, karsa, dan rasa. Sebenarnya Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan.

Koentjaraningrat (2002) mendefinisikan kebudayaan adalah seluruh kelakuan dan hasil kelakuan manusia yang teratur oleh tata kelakuan yang harus didapatkannya dengan belajar dan semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat. Asalkan sesuatu yang dilakukan manusia memerlukan belajar maka hal itu bisa dikategorikan sebagai budaya.

Taylor dalam bukunya Primitive Culture, memberikan definisi kebudayaan sebagai keseluruhan yang kompleks yang didalamnya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, dan kemampuan kesenian, moral, hukum, adat-istiadat dan kemampuan lain serta kebiasaan kebiasaan yang didapat manusia sebagai anggota masyarakat.

Menurut Herskovits, Budaya sebagai hasil karya manusia sebagai bagian dari lingkungannya (culture is the human-made part of the environment). Artinya segala sesuatu yang merupakan hasil dari perbuatan manusia, baik hasil itu abstrak maupun nyata, asalkan merupakan proses untuk terlibat dalam lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun sosial, maka bisa disebut budaya.

2. Unsur Kebudayaan
Koentjaraningrat (2002) membagi budaya menjadi 7 unsur : yakni sistem religi dan upacara keagamaan, sistem dan organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan, bahasa, kesenian, sistem mata pencaharian hidup dan sistem teknologi dan peralatan. Ketujuh unsure itulah yang membentuk budaya secara keseluruhan.

3. Manfaat Bagi Petugas Kesehatan Mempelajari Kebudayaan
a. Didalam semua religi atau agama, ada kepercayaan tertentu yang berkaitan dengan kesehatan, gizi, dll. Misal : orang yang beragama Islam : tidak makan babi, sehingga dalam 2 rangka memperbaiki status gizi, seorang petugas kesehatan dapat menganjurkan makanan lain yang bergizi yang tidak bertentangan dengan agamanya.

b. Dengan mempelajari organisasi masyarakat, maka petugas kesehatan akan mengetahui organisasi apa saja yang ada di masyarakat, kelompok mana yang berkuasa, kelompok mana yang menjadi panutan, dan tokoh mana yang disegani. Sehingga dapat dijadikan strategi pendekatan yang lebih tepat dalam upaya mengubah perilaku kesehatan masyarakat.

c. Petugas kesehatan juga perlu mengetahui pengetahuan masyarakat tentang kesehatan. Dengan mengetahui pengetahuan masyarakat maka petugas kesehatan akan mengetahui mana yang perlu ditingkatkan, diubah dan pengetahuan mana yang perlu dilestarikan dalam memperbaiki status kesehatan.

d. Petugas kesehatan juga perlu mempelajari bahasa lokal agar lebih mudah berkomunikasi, menambah rasa kedekatan, rasa kepemilikan bersama dan rasa persaudaraan.
e. Selain itu perlu juga mempelajari tentang kesenian dimasyarakat setempat. Karena petugas kesehatan dapat memanfaatkan kesenian yang ada dimasyarakat untuk menyampaikan pesan kesehatan.

f. Sistem mata pencaharian juga perlu dipelajari karena sistem mata pencaharian ada kaitannya dengan pola penyakit yang diderita oleh masyarakat tersebut.

g. Teknologi dan peralatan masyarakat setempat . Masyarakat akan lebih mudah menerima pesan yang disampaikan petugas jika petugas menggunakan teknologi dan peralatan yang
dikenal masyarakat.

4. Aspek Sosial yang Mempengaruhi Status Kesehatan Dan Perilaku Kesehatan

Ada beberapa aspek sosial yang mempengaruhi status kesehatan antara lain adalah :
a. Umur
Jika dilihat dari golongan umur maka ada perbedaan pola penyakit berdasarkan golongan umur. Misalnya balita lebiha banyak menderita penyakit infeksi, sedangkan golongan usia lanjut lebih banyak menderita penyakit kronis seperti hipertensi, penyakit jantung koroner, kanker,dan lain-lain.

b. Jenis Kelamin
Perbedaan jenis kelamin akan menghasilkan penyakit yang berbeda pula. Misalnya dikalangan wanita lebih banyak menderita kanker payudara, sedangkan laki-laki banyak menderita kanker prostat.

c. Pekerjaan
Ada hubungan antara jenis pekerjaan dengan pola penyakit. Misalnya dikalangan petani banyak yang menderita penyakit cacing akibat kerja yang banyak dilakukan disawah dengan lingkungan yang banyak cacing. Sebaliknya buruh yang bekerja diindustri , misal dipabrik tekstil banyak yang menderita penyakit saluran pernapasan karena banyak terpapar dengan debu.

d. Sosial Ekonomi
Keadaan sosial ekonomi juga berpengaruh pada pola penyakit. Misalnya penderita obesitas lebih banyak ditemukan pada golongan masyarakat yang berstatus ekonomi tinggi, dan sebaliknya malnutrisi lebih banyak ditemukan dikalangan masyarakat yang status ekonominya rendah.

Menurut H.Ray Elling (1970) ada 2 faktor sosial yang berpengaruh pada perilaku kesehatan :
1. Self concept
Self concept kita ditentukan oleh tingkatan kepuasan atau ketidakpuasan yang kita rasakan terhadap diri kita sendiri, terutama bagaimana kita ingin memperlihatkan diri kita kepada orang lain. Apabila orang lain melihat kita positip dan menerima apa yang kita lakukan, kita akan meneruska perilaku kita, begitu pula sebaliknya.

2. Image kelompok
Image seorang individu sangat dipengaruhi oleh image kelompok. Sebagai contoh, anak seorang dokter akan terpapar oleh organisasi kedokteran dan orang-orang dengan pendidikan tinggi, sedangkan anak buruh atau petani tidak terpapar dengan lingkungan medis, dan besar kemungkinan juga tidak bercita-cita untuk menjadi dokter.



5. Aspek Budaya yang Mempengaruhi Status Kesehatan Dan Perilaku Kesehatan
Menurut G.M. Foster (1973) , aspek budaya dapat mempengaruhi kesehatan  :

a. Pengaruh tradisi
Ada beberapa tradisi didalam masyarakat yang dapat berpengaruh negatif terhadap kesehatan masyarakat.

b. Sikap fatalistis
Hal lain adalah sikap fatalistis yang juga mempengaruhi perilaku kesehatan. Contoh : Beberapa anggota masyarakat dikalangan kelompok tertentu (fanatik) yang beragama islam percaya bahwa anak adalah titipan Tuhan, dan sakit atau mati adalah takdir , sehingga masyarakat kurang berusaha untuk segera mencari pertolongan pengobatan bagi anaknya yang sakit.

c. Sikap ethnosentris
Sikap yang memandang kebudayaan sendiri yang paling baik jika dibandingkan dengan kebudayaan pihak lain.

d. Pengaruh perasaan bangga pada statusnya
Contoh : Dalam upaya perbaikan gizi, disuatu daerah pedesaan tertentu, menolak untuk makan daun singkong, walaupun mereka tahu kandungan vitaminnya tinggi. Setelah diselidiki ternyata masyarakat bernaggapan daun singkong hanya pantas untuk makanan kambing, dan mereka menolaknya karena status mereka tidak dapat disamakan dengan kambing.

e. Pengaruh norma
Contoh : upaya untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi banyak mengalami hambatan karena ada norma yang melarang hubungan antara dokter yang memberikan pelayanan dengan bumil sebagai pengguna pelayanan.

f. Pengaruh nilai
Nilai yang berlaku didalam masyarakat berpengaruh terhadap perilaku kesehatan. Contoh : masyarakat memandang lebih bergengsi beras putih daipada beras merah, padahal mereka mengetahui bahwa vitamin B1 lebih tinggi diberas merah daripada diberas putih.

g. Pengaruh unsur budaya yang dipelajari pada tingkat awal dari proses sosialisasi terhadap perilaku kesehatan.
Kebiasaan yang ditanamkan sejak kecil akan berpengaruh terhadap kebiasaan pada seseorang ketika ia dewasa. Misalnya saja, manusia yang biasa makan nasi sejak kecil, akan sulit diubah kebiasaan makannya setelah dewasa.

h. Pengaruh konsekuensi dari inovasi terhadap perilaku kesehatan
Apabila seorang petugas kesehatan ingin melakukan perubahan perilaku kesehatan masyarakat, maka yang harus dipikirkan adalah konsekuensi apa yang akan terjadi jika melakukan perubahan, menganalisis faktor-faktor yang terlibat/berpengaruh pada perubahan, dan berusaha untuk memprediksi tentang apa yang akan terjadi dengan perubahan tersebut.




6. Perubahan Sosial Budaya
Menurut Koentjaraningrat, bahwa perubahan budaya yang terjadi di masyarakat dapat dibedakan kedalam beberapa bentuk :
a. Perubahan yg tjd secara lambat dan cepat
b. Perubahan yang pengaruhnya kecil dan besar
c. Perubahan yang direncanakan dan yg tdk direncanakan

7.       Makanan Dan Budaya
7.1 Definisi Makanan
Makanan adalah bahan selain obat yang mengandung zat-zat gizi dan atau unsurunsur/ikatan kimia yang dapat diubah menjadi zat gizi oleh tubuh, yang berguna bila dimasukkan dalam tubuh.

7.2 Kebudayaan Menentukan Makanan
Sebagai suatu konsep budaya, makanan (food) bukanlah semata-mata suatu produk organik dengan kualitas-kualitas biokimia yang dapat dipakai oleh organisma termasuk manusia untuk mempertahankan hidupnya. Akan tetapi makanan sebagai sesuatu yang akan dimakan, diperlukan pengesahan budaya. Lewat konsep-konsep budaya itulah

sejumlah makanan yang menurut ilmu gizi sangat bermanfaat untuk dikonsumsi, tetapi dalam prakteknya bisa jadi justru dihindari.
Contoh :
1. Adanya pantangan bayi dan anak tidak diberikan daging, ikan, telur, dan makanan yang dimasak dengan santan dan kelapa parut sebab dipercaya akan menyebabkan cacingan, sakit perut, dan sakit mata .
2. Bagi gadis dilarang makan buah: pepaya, nanas dan jenis pisang tertentu (yang dianggap tabu) karena ada hubungan yang erat dengan siklus masa haid, hubungan kelamin dan reproduksi .

Jadi, dapat kita pahami bahwa adanya masalah gizi di Indonnesia bukan hanya karena masalah sosek, tapi juga karena alasan-alasan budaya, di mana ada ketersediaan makanan tetapi terpaksa tidak dikonsumsi karena kepercayaan atau ketidaklaziman atau karena larangan agama .

7.3 Istilan Makanan “Food Versus Nutrimen”
Masalah aktivitas makan tidak semata-mata sebagai aktivitas fisik manusia untuk pemenuhan naluriahnya seperti lapar, tetapi juga di dalamnya dilekati oleh pengetahuan budaya. Lewat pengetahuan budaya itu, masyarakat manusia mengkategorikan makanan ke dalam dua istilah yaitu nutrimen (nutriment) dan makanan (food).
    Nutriment adalah suatu konsep biokimia, suatu zat yang mampu untuk memelihara dan menjaga kesehatan organisme yang menelannya, terlepas dari apakah makanan itu diperbolehkan atau dilarang dalam kaitannya dengan budaya.
    Food adalah suatu konsep budaya. Sebagai konsep budaya, maka di dalamnya terdapat penjelasan budaya mengenai kategori (bahan) makanan anjuran lawan makanan tabu (larangan); makanan prestise lawan makanan rendah; makanan dingin lawan makanan panas, dan sebagainya. Sebagai suatu konsep budaya, makanan (food) bukanlah semata-mata suatu produk organik dengan kualitas-kualitas biokimia yang dapat dipakai oleh organisma termasuk manusia untuk mempertahankan hidupnya. Akan tetapi makanan sebagai sesuatu yang akan dimakan, diperlukan pengesahan budaya.

    Jellife & Bennet 1962 menyatakan : “Manusia dimana saja, bahkan dalam keadaan sukar sekalipun, hanya makan sebagian dari bahan-bahan yang sebenarnya dapat dimakandan tersedia”.
7.4 Klasifikasi Makanan
Variasi klasifikasi makanan antara lain :
    Menurut prestise – status
    Pertemuan sosial
    Usia
    Keadaan sehat – sakit
    Nilai simbolik – ritual
7.5 Peranan Simbolik Makanan
a) Sebagai ungkapan ikatan sosial
Misal :
    Menawarkan makanan sebagai simbolis ungkapan persahabatan, perhatian, kasih sayang
    Tidak memberi makanan sebagai ungkapan simbolis permusuhan, kemarahan
b) Sebagai ungkapan kesetiakawanan kelompok
Misal : makan bersama, berkumpul dimeja besar melambangkan keakraban keluarga

c) Makanan dan stress
Misal : terpenuhinya makanan kesukaan – kebiasaan membuat dirinya tenang.

d) Simbolisme makanan dalam bahasa
Kualitas makanan digunakan untuk menggambarkan kualitas manusia. Misal : wajah susu madu diartikan sebagai seseorang dengan wajah kuning langsat .

7.6 Pembatasan Budaya Terhadap Kecukupan Gizi
1. Kegagalan melihat hubungan antara makanan dan kesehatan.
Adalah kesenjangan yang besar dalam pemahaman tentang bagaimana makanan itu
dapat digunakan sebaik-baiknya untuk kesehatan, misal :
    Susunan hidangan yang cenderung ditafsirkan berdasar kuantitasnya tanpa memperhatikan kualitas.
    Kepercayaan / tabu terhadap makanan yang tidak menguntungkan kesehatan bila tabu tersebut diterapkan.
2. Kegagalan untuk mengenali kebutuhan gizi pada anak-anak.
    Kegagalan budaya masyarakat memahami bahwa anak-anak memerlukan makanan khusus.
    Kepercayaan/tabu terhadap makanan yang merugikan anak-anak.
    Ketidaktahuan gizi / kecukupan gizi anak.



PUSTAKA
PERSAGI. 2010. Penuntun Konseling Gizi. PT. Abadi, Jakarta.
Soekidjo Notoadmodjo. 2005. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi. Rineka Cipta. Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar